Kisah
ini mungkin bisa di kategorikan sebagai kisah yang tidak masuk akal. Sebuah
cerita bodoh seorang remaja wanita yang selama 3 tahun masih mengharapkan
mantan kekasih semunya. Mantan kekasih yang dia kenal secara tidak wajar, dan
dia cintai secara tidak wajar pula. Kisah cinta yang mampu membelenggu seorang
remaja dalam kisah yang rumit... dan menyedihkan. Dan akulah aktor utama dalam
kisah bodoh itu.
***
Kisah
ini berawal dari sebuah jejaring sosial facebook.
Ya, aku mengenalnya lewat facebook.
Awalnya kami hanya sekedar chatting dan saling bertukar informasi, entah kenapa
saat aku chatting dengannya aku merasa sangat nyaman. Awalnya aku kira dia satu
kota denganku, ternyata dia tinggal di Jakarta. Tidak begitu jauh, tapi saat
itu rasanya menyakitkan membayangkan jarak yang ada.
Dia
orang yang supel, ramah, dan... ganteng. Perkenalan kita berlanjut ke via sms.
Saat itu aku baru tau kalau dia baru saja putus dari pacarnya. Melihat itu aku
menjadi takut, aku takut dijadikannya sebagai pelarian. Setelah 3 hari kita
sering sms-an, akhirnya dia menyatakan cinta kepadaku dan memintaku untuk
menjadi kekasihnya. Apa dia gila? Kita baru kenal seminggu dan belum pernah
bertemu, tapi dia sudah berani menyatakan cintanya kepadaku. Saat itu aku
bingung, jika aku menerima, berarti aku siap menerima konsekuensi atas
perbuatanku. Jika aku menolak, aku tidak mungkin tahan dengan getaran-getaran
yang sering aku rasakan saat sedang mengobrol dengannya, walau hanya lewat sms.
Dia bukan cinta pertamaku, tapi entah kenapa aku merasa selalu ada yang
bergeser saat aku dekat dengannya. Ya, aku sangat nyaman dengannya. Akhirnya,
ku bulatkan tekadku untuk menerima cintanya.
Tiga
hari setelah hari jadian ku dengannya, banyak teman satu kelasku yang
mengetahui itu. Kebanyakan dari mereka telah menjadi temannya di facebook, jadi
mereka dapat mengetahui kabar itu dengan cepat. Namun hubungan kita tidak
berlangsung lama, hingga akhirnya tersebar isu bahwa dia adalah seorang faker.
Dia memakai foto orang lain di facebook, dan keberadaannya masih di ragukan.
Saat itu aku sedih sekali. Aku sedih membayangkan betapa teganya orang yang
membuat isu seperti itu. Karena isu tersebut akhirnya aku memutuskan hubunganku
dengannya. Aku takut jika hubunganku dengannya nanti hanya akan menjadi sebuah
masalah.
Saat
itu aku tau betapa sedihnya dia. Belum tentu aku mampu berada di posisinya.
Memang aku tidak pernah percaya dengan foto-fotonya di facebook, karena aku tau
foto yang dia pajang itu adalah foto seorang model asal NY. Tapi, hati kecilku
tidak dapat berbohong. Hati kecilku tetap mengatakan bahwa dia itu ada dan dia
adalah dia. Aku mencintainya bukan karena wajahnya, aku mencintainya karena dia
salah satu orang yang mampu membuatku nyaman. Aku bahagia dengannya. Aku
bahagia walau hanya sementara.
Setelah
isu yang beredar itu, aku tetap dekat dengannya walau kami hanya teman. Aku
sudah tidak memperdulikan omongan orang. Saat itu aku hanya ingin memperdulikan
kebahagiaanku. Aku semakin dekat dengannya, tapi dia tidak pernah sekalipun
meminta untuk bertemu denganku. Aku tidak tahu persis apa alasannya. Tapi
kadang itu terasa menyakitkan. Kita memang LDR, tapi jarak Karawang-Jakarta
tidak terlalu jauh, jadi apa salahnya untuk kita bertemu. Dan dia juga belum
pernah menelfonku sekalipun. Aku ingin mendengar suaranya. Aku ingin melihat
wajahnya. Lama-lama aku benci dengan cinta ini, tapi sayang, aku tetap tidak
bisa menjauh darinya. Aku seperti di ikat dengan kuat oleh hatinya.
Dia
menembakku lagi. Aku tidak bisa menerimanya. Aku masih memikirkan kejadian
tidak logis yang aku alami dengannya. Mungkin dia tidak sadar dengan hal itu,
tapi aku sadar betul apa yang sedang terjadi. Ya, sebuah cinta semu nan bodoh.
Aku sudah terjebak dalam lingkaran cinta ini, dan aku tidak mau dia juga
menjadi pusing karenanya, cukup aku saja yang merasakan.
Setelah
aku menolak cintanya, dia tetap bersikap seperti mengganggap aku ini pacarnya.
Aku tidak pernah sekalipun marah bila dia memanggilku “sayang” atau “beib”.
Tidak marah karena aku memang senang di panggil seperti itu. Aku selalu
bersemangat bila mengingatnya. Dia adalah moodbooster ku.
Hubungan
kami adalah sebuah hubungan tanpa status. Tidak ada yang berubah sedikitpun
sampai suatu hari karena sebuah pertengkaran kecil yang aku tidak tau awal
mulanya, dia memutuskan hubungan denganku. Nomer handphone, facebook, twitter,
bahkan YMnya sudah tidak aktif. Aku tidak pernah tau akan semarah itukah dia
kepadaku.
Di
situ hatiku sangat sakit sekali. Secepat itukah dia marah kepadaku? Hanya
karena hal sepele dia tega meninggalkanku? Dia tega meninggalkanku dengan
segala kenangan yang telah kita buat. Dia tega meninggalkanku di saat aku masih
membutuhkannya. Aku masih mengingat segala tentangnya. Bahkan, obrolan kita di
sms masih terekam jelas di fikiranku. Oh tuhan, betapa teganya dia.
5
bulan berlalu. Aku masih di sini. Masih dengan kenanganku dengannya. Masih
meratapi pilunya hatiku. Aku tidak menyangka akan selama ini caraku untuk move
on. Aku kira aku akan bisa move on dalam waktu 1 bulan, ternyata... 5 bulan
bukan waktu yang singkat untuk move on.
Sampai
saat aku temukan wajahnya kembali berkicau di dunia maya. Kini facebooknya
telah aktif kembali, dan sekarang dia memakai foto aslinya. Aku tertawa
melihatnya, dia ganteng, kenapa dia malu menunjukkannya. Hatiku merasa hangat
kembali saat aku melihat profilnya. Aku merasa hidup kembali saat ku temukan
jejaknya kembali. Namun, kini sebuah dilema muncul dihadapanku. Dia telah
memiliki seorang kekasih yang baru. Bagaimana bisa aku tetap mencintainya
sementara dia telah berpindah ke hati yang lain? Apa dia tidak tau betapa
sakitnya hatiku melihat itu semua? Aaah...
Menyedihkan.
Selama 4 bulan dia menjalin hubungan dengan kekasihnya, aku masih saja tetap
berjalan di sini. Tetap meratapi malangnya nasibku yang belum bisa move on.
Tapi, beberapa hari terakhir ini ku lihat dia sering bertengkar dengan
kekasihnya. Dan tiba-tiba saja dia mengirimkan chatting kepadaku untuk
menanyakan kabar dan meminta nomer handphoneku. Oh tuhan, betapa bahagianya
aku. Chattingnya selalu aku tanggapi dengan baik. Bagaimana tidak, sudah lama
sekali aku mendambakan saat-saat ini.
Melihatnya
menjauh dari kekasihnya dan mendekatiku, terkadang terasa sakit. Aku selalu dia
sembunyikan. Rasanya aku ini bagai seorang selingkuhan. Padahal aku tidak
pernah bermaksud seperti itu. Aku ini wanita, aku juga dapat merasakan
bagaimana rasanya bila aku ada di posisi kekasihnya, pasti menyakitkan. Tapi
dia selalu membantah semua hal itu. Dia selalu menjelek-jelekkan kekasihnya di
hadapanku. Oh, sangat menyakitkan.
3
hari kemudian, dia menceritakan kepadaku tentang dia yang telah memutuskan
kekasihnya. Di situ aku sangat merasa bersalah, walau sebenarnya aku tidak
bersalah. Dia kembali memintaku untuk menjadi kekasihnya. Tapi entah kenapa
berat sekali rasanya untuk menerimanya. Akhirnya aku kembali menjalani HTS
dengannya. 2 bulan lamanya kita seperti ini, sampai akhirnya tiba-tiba dia
kembali lost contact. Ya tuhan, kenapa dia tega sekali melakukan ini padaku.
Melakukan ini untuk yang kedua kalinya. Dia meninggalkanku di saat aku masih
menaruh seluruh harapanku untuknya.
Dia
melakukan hal ini kembali, lagi dan lagi. Datang di saat hatiku kosong,
membawaku terbang tinggi hingga aku lupa apa itu daratan, tapi kemudian dia
menjatuhkanku dengan keras. Menjatuhkanku ke suatu tempat yang begitu
menyakitkan. Lalu dia pergi, lamaaa sekali. Tapi dia kembali lagi, kembali
dengan tidak menaruh rasa kasihan kepadaku. Tapi aku? Dengan bodohnya aku bisa
menerima dia kembali. 3 tahun. 3 tahun lamanya dia memperlakukanku seperti itu.
Dan dengan mudahnnya, aku selalu dapat menerima arti hadirnya.
Apakah
ini yang dinamakan cinta? Cinta yang abstrak. Aku seperti hidup di dunia
khayal. Yang tidak pernah merasakan asyiknya bercinta seperti remaja lain.
Dinamika cinta yang begitu menyakitkan. Mengapa harus aku yang terjebak di
lingkaran cinta ini??? Kenapa harus aku??? Mungkin tuhan telah memiliki beribu
rencana lain di balik penderitaan kisah cintaku ini.
***
Sampai
saat ini perasaanku kepadamu tidak pernah berubah. Hatiku masih terbuka lebar
untuk menerimamu. Walau aku tau tak mungkin kau mau masuk kembali ke dalam
sini. Tapi harapanku besar terhadapmu.
Harapanku
hanya satu. Aku berharap semua cerita bodoh ini akan ber-ending indah, seindah
pengorbananku untukmu...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar