“cintaku t’lah di ujung jalan.” –Agnes
Monica
2
tahun lebih kita menjalin asmara ini, suka duka telah kita jalani bersama.
Selama ini aku merasa selalu bahagia bila ada di sampingmu. Tak pernah muncul
satu pun alasan untukku membencimu. Aku telah mencintaimu dari segi manapun.
Kau begitu sempurna di mataku.
1
tahun yang lalu, aku masih ingat kedekatan kita yang begitu hangat. Kau yang
selalu menyapaku di setiap waktuku, yang selalu meluangkan waktu hanya untuk
bersamaku, dan yang selalu mengerti keadaanku. Tak pernah sekalipun kau
membuatku marah besar. Kau yang selalu mengingatkan aku saat aku khilaf. Aku selalu menganggapmu pangeran ku. Aku
ingin tetap berada di dalam sini, didalam kehangatan kasih sayangmu.
Jiwamu
terlalu lekat di hatiku. Bayangmu selalu menghampiri menit-menitku. Aku
merindukan detik-detik bersamamu dulu. Saat kita berbagi cerita, saat
kekonyolan yang kau buat membuatku tertawa. Saat aku merasa gila ada di
sampingmu, gila karena cintamu.
Kini
semua itu serasa sudah sirna. Kau menggantungkan hubungan ini. Kau bukan
kekasihku yang dulu. Kini kau selalu sibuk dengan segala urusanmu. Perhatianku?
Kini tak ada artinya untukmu. Aku mengerti keadaanmu, tapi kau? Kau selalu
mudah marah setiap aku sedikit berbuat kesalahan. Aku hanya ingin dimengerti.
Kau kini tak pernah memperdulikanku lagi.
Aku
selalu mencoba sabar dan tegar saat berhadapan denganmu. Aku tidak ingin
memulai semua permasalahan. Aku ingin menyelesaikan ini, menyelesaikan
pertengkaran bodoh ini. Aku merindukan bayangmu yang dahulu mengisi
hari-hariku. Entah apa yang telah aku lakukan padamu hingga membuat kau seperti
ini.
Aku
ingin semua kembali seperti semula. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Tapi
kau selalu mengabaikan setiap kata-kataku. Sakit... mendengar semua ini aku
merasa sangat miris. Aku bertahan di sini hanya untuk kau abaikan.
Kau
seperti tidak pernah mengganggapku sebagai kekasihmu. Aku tidak pernah jenuh
mencintaimu, tapi aku tak tau jika kau bisa jenuh hanya dengan memberikan
cintamu untukku. Aku tidak tau kemana hubungan ini akan berlanjut. Kau masih
saja mengantungkan kisah cinta kita, tak tau apa masih atau tlah berakhir. Mau
sampai kapan kau gantung hatiku seperti ini? Teganya kau menggantung cintaku.
Harusnya kau jelaskan semua, agar kisah kita jelas.
Waktu
terasa berputar seribu kali lebih cepat, hingga membuatmu linglung dan
melupakan kenangan itu. Membuatmu hampir menghapus namaku yang dahulu selalu
tersimpan rapih di hatimu. Tak pernah ada sedikit kemauan dari hatiku untuk
menghapus kau dan semua kenangan ini.
Aku
akan terus tersenyum dalam pahitnya cinta kita. Terima kasih tuk segala luka
yang kau beri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar